Sebabkan Stunting, Masih Banyak Ibu yang Anggap Kental Manis Itu Susu

Kental manis bukanlah susu. Tapi sayangnya, anggapan ini sudah melekat dan mendarah daging pada masyarakat, yang menganggap kental manis sebagai minuman yang bernutrisi. Bahkan, banyak ibu di daerah-daerah yang menjadikan kental manis sebagai pengganti ASI.

Dalam seminar Nasional PP Aisyah YAICI, Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, SE. MM, menjelaskan produk kental manis yang sudah nyaris seabad diiklankan sebagai minuman susu, telah mengakibatkan kesalahan persepsi pada masyarakat.

Masyarakat beranggapan, produk yang mengandung 54 persen gula tersebut dapat diberikan kepada bayi dan balita sebagai minuman susu.

“Kami hampir setiap bulan keliling Indonesia, dan ternyata ibu-ibu masih banyak memberikan kental manis pada balitanya sebagai pengganti ASI,” ujarnya di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Selatan, Rabu, 26 Februari 2020.

Lebih lanjut, Arif menjelaskan, kemudahan masyakarat untuk mendapatkan produk kental manis menjadi salah satu pemicunya. Apalagi, produk yang lebih pas disebut sebagai sirup atau permen tersebut, dijual murah dan tersedia dalam kemasan sachet, yang lebih mudah dijangkau dan tersedia di warung-warung kecil.

“Sekarang di warung-warung ada kemasan sachet. Bukan tujuannya untuk topping makanan dan minuman, tapi untuk porsi satu gelas. Jadi, beberapa daerah yang kami dapatkan, satu hari bisa memberikan 3-5 botol susu dari kental manis,” lanjut dia.

Selain itu, di supermarket-supermarket, produsen menempatkan kental manis bersamaan dengan susu. Jadi masyarakat menganggap kalau kental manis adalah susu.

“Apalagi warna dan rasanya memang seperti susu. Jadi, faktor utamanya sebenarnya adalah harga murah, terus udah terlanjur diberikan kepada anaknya, kemudian anaknya enggak mau lepas,” kata dia.

Menurut Arif, jika anak sudah kecanduan mengonsumsi kental manis, akan sulit untuk melepaskannya. Ditambah, setelah minum produk tersebut yang memiliki rasa yang sangat manis, si anak akan merasa kenyang dan tidak mau mengonsumsi makanan lain. Akibatnya, anak akan kekurangan gizi atau mengalami stunting.

“Puncaknya adalah kami mendapatkan temuan balita yang menderita gizi buruk akibat mengonsumsi kental manis di Kendari dan Batam, dan salah satunya meninggal dunia,” tutur Arif.

Diketahui, beberapa dampak yang ditimbulkan dari stunting, antara lain anak gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif dan motorik, serta gangguan metabolik pada saat dewasa, yaitu risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes, obesitas, stroke dan penyakit jantung. Dan Indonesia merupakan negara keempat di dunia dengan jumlah balita stunting tertinggi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *